Rangkaian pegunungan tertinggi di indonesia terletak di pulau papua:
Puncak Jaya merupakan tempat tertinggi di Indonesia dan termasuk sebagai kawasan Situs Warisan Dunia UNESCO. Puncak jaya atau dikenal sebagai Carstensz Pyramid memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (MDPL) dan terletak di Provinsi Papua.

Provinsi Papua memiliki sejuta potensi, baik kekayaan alam yang melimpah, satwa endemik, berbagai lokasi wisata yang menawan juga menghiasi hampir di seluruh hamparan Tanah Papua dari ujung timur hingga ujung barat kepulauan tersebut.

Sebutlah salah satu yang telah mendunia dari salah satu keindahannya adalah Obyek Wisata Raja Ampat, sebenarnya masih banyak sekali potensi wisata lainnya yang hingga saat ini belum dikelola dengan baik dan dipasarkan sebagai wisata Pulau Papua. Untuk hal ini pemerintah pusat perlu campur tangan sehingga dapat menjadi potensi penghasilan masyarakat pulau Papua.

Definisi Obyek Wisata
Obyek wisata dapat berupa wisata alam seperti gunung, sungai,laut ,danau, pantai atau berupa obyek bangunan seperti museum, benteng, candi, situs peninggalan sejarah, dan lain-lain.

Tentang Pegunungan Jayawijaya

  • Pegunungan Jayawijaya merupakan potensi yang luar biasa untuk di jadikan Icon semua obyek wisata di Pulau Papua, disamping merupakan gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian hingga 4.884 MDPL, Jayawijaya juga merupakan gunung tertinggi Asia hingga Australia.
  • Pegunungan Jayawijaya merupakan salah satu keajaiban dunia, karena merupakan satu-satunya gunung yang ada di garis khatulistiwa dan terdapat salju diatas puncaknya.
  • Pegunungan Jayawijaya merupakan gunung yang sangat di minati para pendaki mancanegara tak terkecuali dari dalam negeri, jika ini dikelola dengan baik maka akan menjadi potensi wisata yang luar biasa yang menyumbang devisa bagi daerah setempat.

Berikut adalah 6 fakta menarik tentang Pegunungan Jayawijaya yang harus Anda ketahui:

1. Beberapa nama yang pernah disandang Pegunungan Jayawijaya

Perlu diketahui bahwa yang pertama kali melakukan ekspedisi hingga Gunung Jayawijaya adalah Jan Cartenz pada tahun 1623, Pria asal belanda inilah penemu Gunung Jayawijaya yang pada awalnya dianggap pembualatau pembohong karena mengatakan bahwa ada gunung di kawasan tropis tapi tertutup oleh salju.
Oleh karena itu, untuk menghormanti penemuannya itu pada mulanya Gunung Jayawijaya bernama Cartenz Pyramid.

Pada masa Presiden Soekarno, setelah Presiden Seokarno berhasil membebaskan Irian dari penjajahan, Gunung Jayawijaya berubah nama menjadi Puncak Soekarno, sebagai penghormatan atas jasa Presiden Pertama Indonesia itu yang telah membebaskan Irian dari penjajah.
Pada Tahun 1960an, masa itu terjadi perubahan politik dari orde lama menjadi orde baru, Gunung Jayawijaya ikut mengalami perubahan nama menjadi Gunung Jayawijaya yang hingga saat ini.

2. Orang pertama yang menaklukkan Puncak Jayawijaya

Setelah Cartenz menemukan Gunung Jayawijaya pada tahun 1623, pada tahun 1909 belanda kembali lagi mengirim tim ekspedisi dan berhasil naik kepuncak Jayawijaya, tim ekspedisi diketuai oleh Hendrikus Albertus Lorentz bersama dengan enam orang dari Suku Kayan Kalimantan Utara, oleh karena itu kawasan tersebut hingga saat ini disebut Taman Nasional Lorentz yang mulai ditetapkan pada tahun 1919.

Pada tahun 1936 belanda mengirim tim ekspedisi lagi untuk memutuskan berapa ketinggian Gunung Jayawijaya, ikut dalam tim pendakian tersebut antara lain Anton Colijn, Jaquez Dozy dan Frits Julius Wissel pada saat itu mereka hanya mampu mendaki hingga 4.862 MDPL, karena pada saat itu gletser sedang mencair, sebenarnya perikiraan mereka ketinggian Gunung Jayawijaya hingga 5.000MDPL.

Setelah itu pendaki asal Austria yaitu Heinrich Harrer, Russel Kippax, Bertus Huizenga dan Robert Philip Temple berhasil menapaki puncak Gunung Jayawijaya pada tahun 1962.
Heinrich Harrer merupakan pendaki yang sangat terkenal didunia, ia telah menuliskan beberapa pengalaman mendakinya menjadi Novel hingga jadikan Fiilm layar lebar, Novel yang sangat terkenal adalah “ Seven Years In Tibet” yang merupakan kisah perjalananya menaklukkan Gunung Tibet, dan Novel tersebut saat ini sudah dijadikan film layar lebar.

Pada tahun 1964, bangsa Indonesia sendiri baru melakukan pendakian oleh Letkol Azwar Hamid dan Direktorat Topografi Angkatan Darat berhasil mencapai puncak Jayawijaya.

3. Ekstrimnya jalur pendakian Gunung Jayawijaya

Ekstrimnya jalur pendakian merupakan tantangan tersendiri bagi pendaki gunung, oleh karena itu setiap pendaki sudah dipastikan ingin menapakkan kakinya di puncak Jayawijaya.

Di samping jalur yang ekstrim Cuaca dipuncak Jayawijaya juga sangat ekstrim, hingga sangat sulit sekali seorang pendaki mampu bertahan disana.
Untuk sampai Puncak Jayawijaya dibutuhkan kemampuan fisik yang mumpuni, mental baja, kemapuan bertahan hidup serta Navigasi yang matang.
Diatas Ketinggian 4.000 mdpl merupakan hal yang sangat sulit, disana tidak dapat bergerak dengan bebas, kadar oksigen sangat tipis sehingga pernafasan juga susah, disamping cuaca di puncak Jayawjaya yang ekstrim.

Di puncak Jayawijaya disana Anda dapat menyaksikan Hujan Air, Hujan Es serta Hujan Salju, tidak seperti daerah tropis lain yang hanya ada Hujan Air saja.

4. Salju dan Glester Puncak Jayawijaya merupakan Perlawanan Hukum Alam

Hukum alam mengatakan bahwa mustahil di Garis Khatulistiwa ditemukan salju apalagi Glester atau tumpukan salju abadi, tapi ini semua tidak berlaku untuk puncak Gunung Jayawijaya.
Glester sangat bermanfaat sebagi sumber air tawar untuk kawasan disekelilingnya, karena keberadan glister ini Puncak Jayawijaya disebut sebagai Puncak Salju Abadi.

5. BMKG memperkirakan Salju Jayawijaya akan habis pada tahun 2022

Pada tahun 2016 lalu BMKG menerbitkan laporan bahwa Puncak Jayawijaya akan kehilangan saljunya pada tahun 2022 nanti, BMKG berpendapat pada tahun 2022 nati Glester akan mencair merucjuk catatan Glester yang dari tahun ke tahun terus menurun.

Ketebalan es diteliti mulai tahun 2010 hingga 2016 mengalami penurunan yang sangat tajam, pada tahun 2010 ketebalan es masih mencapai 31,49 meter, lima tahun kemudian pada 2015 es telah berkurang hingga tinggal 26,23 meter, setahun kemudian pada 2016 ketebalan salju tinggal 20,54 meter.
Penurunan yang sangat drastis akibat panas dunia yang kian meninggi, hingga glester mecair dengan cepat tahun demi tahun.

6. Keunikan Puncak Jayawijaya, terdapat Fosil Hewan Laut seperti kerang

Diatas ketinggian 4.884 MDPL tentu sangat unik bila ternyata ditemukan fosil-fosil hewan laut seperti kerang, karang dan lain sebagainya.
Puncak Jayawijaya dulunya diperkirakan adalah dasar laut, pada saat berpisahan daratan Papua dari Benua Australia dasar laut tersebut naik karena dorongan lempeng bumi, ribuan tahun bahkan jutaan tahun lalu.
Sehingga merupakan keunikan tersendiri gunung tertinggi tapi terdapat fosil hewan-hewan laut.

Dan itulah 6 fakta tentang Pegunungan Jayawijaya di Papua menurut versi kami.
Semoga bermanfaat, menambah referensi pengetahuan dan informasi tentang Bumi Cendrawasih (Papua, Indonesia).
Salam.

Etimologi dari “cenderawasih” adalah dari “cendra” atau dewa-dewi bulan dan “wasi” yang memiliki arti wakil atau utusan, jadi “cenderawasih” artinya utusan dewa-dewi bulan. Burung ini disebut-sebut dalam kitab mistis Tajul muluk. Burung ini berasal dari surga dan selalu berdampingan dengan para wali.
Sumber: Wikipedia

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh jayawijaya.net (situs web buatan kami pesanan dari Bpk Imam Iswadi) dan diterbitkan ulang oleh Agus Online untuk memperluas cakupan penyebaran informasi berguna mengenai Gunung Jayawijaya. Jika Anda membutuhkan jasa website profesional, silahkan hubungi kami untuk di bantu.